Artikel

PENERAPAN MODEL PROBLEM BASED LEARNING PADA PEMBELAJARAN REDOKS DITINJAU

AKTIVITAS BELAJAR SISWA

 Winandari Dewi Antari

Program Studi S1 Pendidikan Kimia Fakultas Metematika dan Ilmu Pengetahuan Alam , Universitas Negeri Semarang , Indonesia

email: winandaridewiantari@gamil.com

 

ABSTRAK

Tujuan penulisan artikel ini adalah untuk mengetahui keaktifan berpikir dan bekerja dari para siswa,dalam materi Redoks yang dipelajari merupakan materi mengenai pemahaman tentang reaksi redoks dan penyetaran reaksinya sangatlah diperlukan dikarenakan konsep ini merupakan dasar penguasaan konsep lainnya seperti kimia larutan, elektrokimia dan teknologinya. Maka  diperlukan suatu metode pembelajaran ilmiah. Model pembelajaran  yang di gunakan dalam materi redoks adalah dengan model  pembelajaran Problem Based Learning (PBL). Pelaksanaan model PBL terdiri dari lima langkah utama yaitu: orientasi siswa pada masalah, pengorganisasian siswa untuk belajar, penyelidikan individu maupun kelompok, pengembangan dan penyajian hasil, serta kegiatan analisis dan evaluasi. Keberhasilan dari metode Model PBL didukung oleh keaktifan siswa dalam membangun konsep, sedangkan guru juga dituntut untuk memiliki keahlian dalam membimbing serta memfasilitasi kegiatan belajar siswa dengan baik dipilih. Dan hasil dari model Problem Based Learning (PBL), antara lain adalah: 1) Siswa dapat memecahkan masalah yang diberikan dapat menantang dan membangkitkan kemampuan berpikir kritis siswa serta memberikan kepuasan untuk menemukan suatu pengetahuan baru, 2) Saat  Pembelajaran dengan model PBL dianggap lebih menyenangkan dan lebih disukai siswa, 3) Model PBL dapat meningkatkan aktivitas siswa dalam proses pembelajaran, dan 4) Model PBL dapat memberikan kesempatan siswa untuk menerapkan pengetahuan yang mereka miliki ke dalam dunia nyata .

Kata kunci : Reaksi Redoks, Model pembelajaran, Problem Based Learning (PBL).

 

ABSTRACT

The purpose of writing this article is to determine the activity of thinking and work of the students, in the material studied Redox is a matter concerning the understanding of redox reactions and reaction penyetaran is needed because the concept of a basic mastery of concepts such as solution chemistry, electrochemistry and technology. We need a scientific learning methods. The learning model is used in redox material is a learning model Problem Based Learning (PBL). Implementation of the model PBL consists of five main steps: orientation of students on the issue, organizing students to learn, individual and group investigation, development and presentation of the results, as well as analysis and evaluation activities. The success of the method PBL model supported by active students in developing the concept, while the teachers are also required to have expertise in guiding and facilitating the learning activities of students well chosen. And the results of the model Problem Based Learning (PBL, among other things: 1) Students can solve a given problem can be challenging and evoke critical thinking skills of students as well as to give satisfaction to find a new knowledge, 2) While learning model PBL is considered more pleasant and preferably students, 3) Model PBL can enhance the activity of students in the learning process, and 4) the PBL model can give students the opportunity to apply the knowledge they have in the real world.

Keywords: Redox Reactions, learning model, Problem Based Learning (PBL).

PENDAHULUAN

Pendidikan merupakan aspek penting dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Peningkatan dan perbaikan mutu pendidikan tidak dapat terlepas dari berbagai upaya. Salah satunya upaya yang pemerintah adalah menerapkan dan mengembangkan kurikulum berbasis kompetensi pada tahun 2004 dan 2006 menjadi kurikulum 2013. Kurikulum 2013 ditetapkan sebagai bagian meningkatkan kualitas pendidikan Indonesia di seluruh jenjang yang dinilai dari tiga ranah kompetensi, yaitu: pengetahuan, sikap, dan keterampilan. Tahap pelaksanaan kurikulum 2013 berfokus pada kegiatan aktif siswa melalui suatu proses ilmiah dengan tujuan agar pembelajaran tidak hanya menciptakan peserta didik yang mempunyai kompetensi pengetahuan saja, tetapi juga mampu menciptakan peserta didik yang baik dalam sikap dan keterampilan (Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2013).

Dalam proses pembelajaran di bidang sains khususnya kimia, kreatifitas guru dan keaktifan merupakan aspek yang penting agar proses pembelajaran dapat terlaksana dengan baik dan tujuan pembelajaran juga dapat tercapai. Hal ini dikarenakan topik kimia pada umumnyaberkaitan dengan struktur zat dan adanya konsep-konsep yang terkandung dalam ilmu kimia yang kompleks, kimia dianggap sebagai pelajaran yang sulit bagi banyak siswa (Sirhan, Ghassan. 2007). Materi reaksi redoks merupakan salah satu materi kimia yang dianggap paling sulit oleh siswa. Masalah kesulitan dalam materi reaksi redoks adalah tentang definisi reaksi redoks dimana para guru kimia dan buku teks kimia seringkali menggunakan lebih dari 1 definisi mengenai proses reaksi oksidasi dan reduksi (Rosenthal, D.P dan Sanger M.J. 2012).

Pada hasil penelitian  yang dilakukan oleh  Aldila Candra Kusumaningrum dan Sumarni tentang identifikasi reaksi redoks menunjukkan bahwa dari 158 siswa yang diuji, sebagian besar mengalami kesulitan pada identifikasi reaksi oksidasi sebesar 73,4%, identifikasi reaksi reduksi sebesar 70,3% dan reaksi redoks sebesar 76,6% . Penelitian lain yang di lakukan oleh Aldila Candra Kusumaningrum dan Sumarni tentang pemahaman konsep reaksi redoks dimana hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat pemahaman siswa dalam menyetarakan reaksi redoks dengan metode ion-elektron sebesar 65%, tingkat pemahaman siswa dalam menyetarakan reaksi redoks dalam larutan asam sebesar 73% dan tingkat pemahaman siswa dalam menyetarakan reaksi redoks dalam suasana basa sebesar 42%. Dan penelitian dalam jurnal,”Pengembangan Multimedia Chemtutor pada Materi Reaksi Redoks SMA Kelas xii “, tentang penyetaraan redoks juga mengatakan bahwa penyetaraan reaksi redoks juga dianggap sebagai konsep yang sulit untuk dipahami dan melibatkan beberapa aturan yang harus dihafal siswa. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa metode setengah reaksi dengan pemodifikasian penyajian penjelasan materi lebih efektif dan mudah dipahami siswa (Bridges, M. & Hallinger, M.,2008). Pemahaman tentang reaksi redoks dan penyetaran reaksinya sangatlah diperlukan dikarenakan konsep ini merupakan dasar penguasaan konsep lainnya seperti kimia larutan, elektrokimia dan teknologinya (Purtadi, Sukisman. 2006)

Redoks yang dipelajari merupakan materi mengenai pemahaman tentang reaksi redoks dan penyetaran reaksinya sangatlah diperlukan dikarenakan konsep ini merupakan dasar penguasaan konsep lainnya seperti kimia larutan, elektrokimia dan teknologinya. Oleh karena itu, untuk membantu keaktifan berpikir dan bekerja dari para siswa diperlukan suatu metode pembelajaran ilmiah. Metode pembelajaran ilmiah memiliki beberapa model yang disesuaikan dengan tingkat kesulitan dan karakteristik materi serta kondisi siswa, sehingga pembelajaran ilmiah dapat diterapkan dengan model pembelajaran berlandaskan paradigma konstruktivisme. Model pembelajaran konstruktivisme yang dapat membangun proses berpikir ilmiah siswa antara lain adalah: Inquiry, Project Based Learning (PjBL), Discovery Learning (DL), dan Problem Based Learning (PBL). Melalui kegiatan pembelajaran konstruktivisme, siswa mencari dan membangun sendiri informasi dari sesuatu yang dipelajari sehingga proses belajar bukan sekedar kegiatan memindahkan pengetahuan dari guru ke siswa, tetapi merupakan kegiatan yang membangkitkan keaktifan dan memungkinkan siswa membangun sendiri pengetahuannya((Sardiman, 2009).

Materi yang dianggap sulit oleh peserta didik dapat diatasi dengan cara penyampaian dan penyajian materi yang lebih interaktif dan efisien. Salah satunya dengan menggunakan model pembelajaran. Salah satu model pembelajaran ilmiah berlandaskan teori konstruktivisme yang dapat diterapkan dalam kegiatan pembelajaran redoks adalah Problem Based Learning (PBL). Pelaksanaan model PBL terdiri dari lima langkah utama yaitu: orientasi siswa pada masalah, pengorganisasian siswa untuk belajar, penyelidikan individu maupun kelompok, pengembangan dan penyajian hasil, serta kegiatan analisis dan evaluasi Menurut Bridges, model PBL diawali dengan penyajian masalah, kemudian siswa mencari dan menganalisis masalah tersebut melalui percobaan langsung atau kajian ilmiah. Melalui kegiatan tersebut aktivitas dan proses berpikir ilmiah siswa menjadi lebih logis, teratur, dan teliti sehingga mempermudah pemahaman konsep (Musfiqon. 2012).

Model PBL dipilih karena mempunyai beberapa kelebihan, antara lain adalah: 1) Pemecahan masalah yang diberikan dapat menantang dan membangkitkan kemampuan berpikir kritis siswa serta memberikan kepuasan untuk menemukan suatu pengetahuan baru, 2) Pembelajaran dengan model PBL dianggap lebih menyenangkan dan lebih disukai siswa, 3) Model PBL dapat meningkatkan aktivitas siswa dalam proses pembelajaran, dan 4) Model PBL dapat memberikan kesempatan siswa untuk menerapkan pengetahuan yang mereka miliki ke dalam dunia nyata(Gijselaers, W, 2007).

Kelebihan model PBL dalam pembelajaran ini juga didukung dengan beberapa hasil penelitian antara lain adalah: 1) Suardana berpendapat bahwa kualitas kemampuan siswa dalam menemukan konsep dan melakukan pemecahan masalah dapat ditingkatkan melalui pembelajaran PBL((Suardana, I, 2006).), 2) Lightner berpendapat bahwa model PBL dapat membangun dan meningkatkan tingkat kerjasama dan komunikasi antarsiswa (Lightner, B. & Willi, K. 2007), 3) Sahala berpendapat bahwa pada kegiatan pembelajaran dengan pola pembelajaran berbasis masalah (PBL), siswa dibiasakan untuk menemukan serta mengkontruksi pengetahuannya sendiri sehingga belajar akan menjadi lebih bermakna, dan 4) Mergendoller dan Bellisimo berpendapat bahwa model PBL dapat meningkatkan aktivitas siswa, dimana siswa yang mempunyai rata-rata keterampilan dan pengetahuan (Mergendoller, M. & Bellisimo, J., 2006).

Keberhasilan model PBL ini didukung oleh keaktifan siswa dalam membangun konsep, sedangkan guru juga dituntut untuk memiliki keahlian dalam membimbing serta memfasilitasi kegiatan belajar siswa dengan baik.

Pembelajaran model PBL selain mempunyai beberapa kelebihan juga mempunyai kelemahan, antara lain yaitu sulitnya membangun minat dan motivasi siswa untuk terlibat aktif dalam kegiatan pemecahan masalah dan waktu yang cukup lama dalam pelaksanaannya, untuk mengatasi masalah tersebut digunakan suatu media pembelajaran yaitu berupa lembar kerja siswa (LKS) berbasis PBL yang diharapkan dapat membangun minat dan keaktifan siswa dalam rangka menyelesaikan berbagai permasalahan yang berkaitan dengan materi redoks. LKS PBL perlu berisi mengenai petunjuk singkat mengenai suatu masalah, hal-hal yang akan diamati, diuijicoba, dihitung dan lain-lain agar siswa dapat bekerja secara teratur dan meningkatkan pemahaman siswa terhadap konsep. LKS PBL dalam penelitian ini disusun secara mandiri dengan menyajikan data, petunjuk praktikum,  dan latihan redoks yang harus ditemukan jawabannya oleh siswa baik secara individu maupun kelompok. Pemanfaatan LKS berbasis model PBL tersebut juga diharapkan dapat membantu membangun proses berpikir ilmiah, melatih kerjasama, membentuk rasa tanggung jawab dalam belajar, dan dapat dijadikan salah satu sumber belajar yang efektif bagi siswa(Suardana, I, 2006).

HASIL DAN PEMBAHASAN

Kurikulum 2013 disusun dengan tujuan membentuk peserta didik yang unggul dalam 3 ranah kompetensi yaitu sikap, keterampilan, dan pengetahuan. Hasil belajar siswa yang diamati pada penelitian ini ada 3 ranah kompetensi, yaitu sikap (spiritual, jujur, toleransi, kerjasama, disiplin, tanggung jawab, percaya diri, dan santun), keterampilan mencakup proses dan produk ilmiah, dan pengetahuan metakognitif siswa, sedangkan proses pembelajaran ditinjau dari aktivitas siswa yaitu visual, oral, writing, listening, mental, dan emotional. Kompetensi-kompetensi peserta didik tersebut dapat dikatakan tercapai baik apabila persentase ketercapaian yang diperoleh adalah sebesar 75%.

Tahap orientasi dilakukan dengan menyusun dan memvalidasi instrumen pembelajaran dan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini. Instrumen pembelajaran meliputi silabus, RPP, dan LKS berbasis PBL. Instrumen penilaian hasil belajar (sikap, keterampilan, dan pengetahuan) dan aktivitas siswa adalah soal tes, angket, dan lembar observasi. Evaluasi hasil belajar siswa ranah pengetahuan dilakukan dengan tes soal pilihan ganda, angket digunakan untuk menilai aktivitas dan ranah sikap siswa (penilaian diri sendiri dan antarteman), sedangkan lembar observasi digunakan untuk menilai aktivitas, ranah sikap, dan keterampilan siswa selama kegiatan.  Redoks yang dipelajari merupakan materi mengenai pemahaman tentang reaksi redoks dan penyetaran reaksinya sangatlah diperlukan dikarenakan konsep ini merupakan dasar penguasaan konsep lainnya seperti kimia larutan, elektrokimia dan teknologinya.

Instrumen penilaian hasil belajar (sikap, keterampilan, dan pengetahuan) dan aktivitas siswa adalah soal tes, angket, dan lembar observasi. Evaluasi hasil belajar siswa ranah pengetahuan dilakukan dengan tes soal pilihan ganda, angket digunakan untuk menilai aktivitas dan ranah sikap siswa (penilaian diri sendiri dan antarteman), sedangkan lembar observasi digunakan untuk menilai aktivitas, ranah sikap, dan keterampilan siswa selama kegiatan.

                        Langkah pembelajaran PBL dalam penelitian secara umum dapat dilihat pada Tabel 1 berikut ini:

                         Tabel 1. Langkah Pembelajaran PBL pada Tahap Pelaksanaan Tindakan

Langkah Kegiatan Siswa
 

a. Orientasi siswa terhadap masalah

 

 

1) Membentuk suatu kelompok kerja dan diskusi

2) Menanyakan tujuan, informasi dan penjelasan dari guru

3) Memotivasi diri dan mempersiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan dalam kegiatan belajar

 

b. Pengorganisasian siswa untuk belajar

 

 

1) Memahami prosedur dari kegiatan yang akan dilaksanakan

2) Merumuskan masalah

 

 

c. Penyelidikan secara individu maupun kelompok

 

 

1) Mengumpulkan data dan informasi yang diperlukan

2) Melakukan kegiatan baik secara individu maupun kelompok

 

d. Pengembangan dan penyajian hasil

 

 

1) Menganalisis data hasil

2) Melakukan diskusi

 

 

e. Analisis dan evaluasi proses pemecahan masalah

 

1) Merefleksi serta mengevaluasi hasil pengamatan

2) Merumuskan konsep dan kesimpulan bersama guru

 

 

Pelaksanaan pembelajaran PBL diterapkan dalam kelompok-kelompok belajar. Kelompok tersebut terdiri dari 8 kelompok dengan anggota sebanyak 4 orang siswa. Pembagian kelompok dilakukan secara acak dan heterogen dengan tujuan agar setiap siswa kelompok bawah maupun kelompok atas mempunyai kesempatan yang sama untuk mengembangkan pengetahuan yang dimiliki. Pembagian kelompok belajar ini didasarkan pada teori belajar Vygotsky bahwa kegiatan belajar individu akan mempunyai hasil yang lebih baik apabila dilaksanakan melalui kegiatan bersama (co-constructivisme). Hal ini sesuai dengan hakikat pembelajaran PBL yang dilaksanakan dalam penelitian dengan memberikan kesempatan pada siswa untuk bekerja dan berbagi pengetahuan melalui kegiatan kelompok yaitu praktikum dan diskusi.

Pembelajaran juga dilaksanakan dengan menggunakan media berupa LKS berbasis PBL untuk membantu memperlancar jalannya kegiatan. LKS PBL tersebut telah disajikan tujuan pembelajaran, petunjuk, cara kerja, data pengamatan, masalah dan data ilmiah, lembar tugas individu dan diskusi yang harus dipecahkan bersama sehingga kegiatan pembelajaran menjadi lebih teratur serta dapat meningkatkan kerjasama dan tanggung jawab siswa dalam menemukan konsep.

Dan hasil dari metode Problem Based Learning (PBL, antara lain adalah: 1) Siswa dapat memecahkan masalah yang diberikan dapat menantang dan membangkitkan kemampuan berpikir kritis siswa serta memberikan kepuasan untuk menemukan suatu pengetahuan baru, 2) Saat  Pembelajaran dengan model PBL dianggap lebih menyenangkan dan lebih disukai siswa, 3) Model PBL dapat meningkatkan aktivitas siswa dalam proses pembelajaran, dan 4) Model PBL dapat memberikan kesempatan siswa untuk menerapkan pengetahuan yang mereka miliki ke dalam dunia nyata.

KESIMPULAN DAN SARAN

  1. Kesimpulan

Hasil penelitian yang telah dilakukan disimpulkan bahwa aktivitas (visual, oral, writing, listening, mental, dan emotional) dan hasil belajar (sikap, keterampilan, dan pengetahuan) dengan penerapan PBL pada materi Redoks mempunyai hasil sebagai berikut :1) Siswa dapat memecahkan masalah yang diberikan dapat menantang dan membangkitkan kemampuan berpikir kritis siswa serta memberikan kepuasan untuk menemukan suatu pengetahuan baru, 2) Saat  Pembelajaran dengan model PBL dianggap lebih menyenangkan dan lebih disukai siswa, 3) Model PBL dapat meningkatkan aktivitas siswa dalam proses pembelajaran, dan 4) Model PBL dapat memberikan kesempatan siswa untuk menerapkan pengetahuan yang mereka miliki ke dalam dunia nyata.

2.SARAN

  1. Selain di butuhkan keaktifan dari murid dari kreatifitas guru dan keaktifan merupakan aspek yang penting agar proses pembelajaran dapat terlaksana dengan baik dan tujuan pembelajaran juga dapat tercapai
  2. Guru hendaknya dapat selalu membangun minat dan motivasi siswa,
  3. Mampu memanfaatkan fasilitas dan prasana yang ada, dan
  4. Menyediakan atau menyusun media pembelajaran yang menarik bagi siswa.

Daftar pustaka

Belland, B,. Ertmer, K., & Klein, A., 2006, The Interdisciplinary Journal of Problem-based Learing,1(2), 1-18

Bridges, M. & Hallinger, M.,2008 , American Journal of Physics, 60 (7), 53-62

Gijselaers, W, 2007, American Journal of Physics, 60 (7), 13-21

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2013, Kurikulum 2013 SMA: Pedoman Khusus dalam Pengembangan Silabus dan Penilaian Mata Pelajaran Kimia

Lightner, B. & Willi, K. 2007, College Teaching, 5(5), 5-18

Mergendoller, M. & Bellisimo, J., 2006, The Interdisciplinary Journal of Problem-based  Learing, 1(2)49-69

Musfiqon. 2012. Pengembangan Media dan Sumber Pembelajaran. Jakarta: Prestasi Pustakaraya

Purtadi, Sukisman. 2006. Modifikasi Metode Setengah Reaksi untuk Menyetarakan Reaksi Redoks   pada Pembelajaran Konsep Reaksi Redoks dan Elektrokimia di SMA. Cakrawala   Pendidikan. Th. XXVNo.1

Rosenthal, D.P dan Sanger M.J. 2012. Student Misinterpretations and Misconceptions Based on Their Explanations of Two Computer Animations pf Varying Complexity Depicting the Same Oxidation-Reduction Reaction. J. Chem. Educ.13. 471-483.

Sahala, S, 2010, Jurnal Matematika dan IPA, 1 (2), 80-100

Sardiman, 2009, Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar, Raja Grafindo Persada, Jakarta, 70-102

Sidauruk, Suandi. 2003. Kesulitan Siswa SMU Memahami Konsep Reaksi Redoks. Jurnal   Pendidikan MIPA. Volume 3 No. 1

Sirhan, Ghassan. 2007. Learning Difficulties in Chemistry. Journal of Turkish Science Education  Volume 4, Issue 2

Suardana, I, 2006, Jurnal Pendidikan dan Pengajaran IKIP Negeri Singaraja, No 4 TH XXXIX Oktober 2006, ISSN 0215 – 8250

Wulandari, Agustia Catur. 2012. Kajian tentang Pemahaman Konsep Reaksi Redoks pada Siswa Kelas X Semester II SMA Negeri 5 Malang Tahun Ajaran 2011/2012.                                  Skripsi. Malang: Unversitas Negeri Malang

 

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *